Budaya Konsumtif yang Mengancam Generasi Milenial

Budaya Konsumtif yang Mengancam Generasi Milenial

lm Confession of Shopaholic besutan Hollywood pada 2009 itu berhasil menyedot perhatian dunia. Melalui film ini, Rebecca Bloomwood yang diperankan Isla Fisher menampar jutaan penonton bioskop yang memiliki kesamaan dengannya yaitu berutang kartu kredit untuk meningkatkan gaya hidup.
Serupa tapi tak sama, pesan moral lainnya mengenai gaya hidup konsumtif diceritakan dalam film The Joneses. Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga mewah nan harmonis yang memancing orang-orang sekitar untuk membeli produk mewah yang mereka pamerkan.
Kini, prediksi Hollywood tersebut menghantui kalangan kelas menengah milenial Indonesia pada 2020. Seperti diungkapkan berbagai studi bahwa pada 2020, Indonesia akan digerakan generasi millennial dengan perpaduan masyarakat kelas menengah dan masyarakat urban.

The Boston Consulting Group (BCG) menyebutkan pada 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, dan diprediksi akan terus meningkat hingga 141 juta jiwa pada 2020 nanti. Masyarakat kelas menengah dikenal selalu menjadi motor perubahan terutama terkait aspek ekonomi dan perubahan sosial, dalam sejarah berbagai negara.
Lalu, bagaimana affluenza dapat menghantui milenial Indonesia? Kata affluenza pertama kali muncul pada salah satu artikel MAP pada 1908 tulisan James Douglas yang berjudul Things I Think About. Namun belakangan, istilah ini kembali muncul ke permukaan setelah pada 2013, seorang anak konglomerat asal Texas, AS, Ethan Couch dengan arogannya telah menewaskan 4 orang karena ulahnya berkendara dalam keadaan mabuk.

Publik AS geram akan ulah anak ini, namun pengacara menyebutnya ia menderita affluenza yaitu penyimpangan perilaku akibat pola asuh yang penuh kemewahan dan berbagai faktor eksternal lainnya seperti gaya hidup mewah. Topik ini kembali menjadi pembicaraan hangat saat ini setelah Ethan Couch dibebaskan pada 2 April 2018 seusai menjalani 2 tahun masa tahanan.

Setelah mendalami kasus ini, beberapa pendukung teori affluenza menetapkan bahwa orang-orang yang menderita affluenza memiliki pemikiran bahwa uang dapat membeli kebahagiaan, yang sering kali hal ini membuat mereka tidak dapat memaknai kekayaan yang dimiliki karena ‘usaha untuk terus menjadi kaya’ ini membuat mereka tidak pernah merasa puas. Selain itu, mereka sering mengalami masalah dalam masyarakat normal, mulai dari sulitnya membedakan antara benar dan salah hingga berkurangnya empati seiring meningkatnya arogansi.

Gejala inilah yang terdapat pada generasi milenial kelas menengah Indonesia bahkan di berbagai negara. Beberapa gejala affluenza diantaranya perasaan depresi akan citra diri yang terkait langsung dengan status keuangan. Salah satu yang paling familiar adalah ‘perlombaan’ untuk meningkatkan citra diri melalui unduhan foto di sosial media.
Menurut Independent Wealth Management Advisor, FX Iwan, bila tren ini terus ada di kalangan milenial kelas menengah Indonesia, maka dapat berdampak pada ignoran untuk berinvestasi. Berbagai asumsi bermunculan dari pola gaya hidup milenial, salah satunya kemungkinan bahwa mereka sulit untuk memiliki rumah karena tingkat konsumsi yang berlebihan untuk sekedar meningkatkan citra diri.

“Oleh karena itu, penting bagi para wealth advisor untuk memiliki kemampuan psikologi pengelolaan kekayaan atau the psychology of wealth,” ujar Iwan.
Iwan melanjutkan walaupun psikologi pengelolaan kekayaan ini biasanya diberikan kepada orang tua yang ingin mewariskan kekayaan mereka kepada anak masing-masing, sehingga terjadi transfer emosional dari kekayaan yang akan diterima oleh sang anak, namun psikologi pengelolaan kekayaan harus dimiliki setiap individu yang memilki penghasilan termasuk generasi milenial kelas menengah agar terhindar dari affluenza.
“Selain generasi milenial kelas menengah melengkapi diri mereka dengan psikologi pengelolaan kekayaan untuk masa depan mereka, saya menyarankan setiap relationship officer dari institusi finansial juga memfasilitasi layanan wealth management yang diberikan kepada klien mereka dengan berlandaskan pada the psychology of wealth,” tambahnya.
Seyogianya Anda Cermati
Berikut beberapa hal yang harus diterapkan generasi milenial kelas menengah agar terhindar dari affluenza.

1.Tetapkan Batas Pengeluaran
Kebebasan Finansial (Financial Freedom) pada dasarnya adalah memiliki pendapatan pasif (passive income) yang terus mengalir tanpa dipengaruhi kondisi pendapatan dari hasil bekerja seseorang. Ada dua variabel yang dapat di sesuaikan untuk mencapai kebebasan finansial yaitu:

– Meningkatkan pendapatan pasif

– Mengurangi pengeluaran

Menetapkan batasan pengeluaran adalah hal pertama yang harus dilakukan 1 hari sebelum menerima gaji di rekening kita. Setiap bulan, kita tentu memiliki pengeluaran tetap dan pengeluaran yang tidak terduga. Untuk dapat mencapai kesuksesan dalam melakukan pengurangan yang telah kita capai, rekap semua tagihan untuk menjadi catatan evaluasi di bulan berikutnya.

2.Jangan Biasakan Jalan Pintas
Banyak penelitian mengatakan milenial adalah generasi impulse buying yang menyebabkan mereka tidak dapat mengendalikan keinginan untuk menunggu waktu dalam mendapatkan sesuatu. Sehingga berhutang bisa dijadikan sebagai jalan pintas atau shortcut dibandingkan mengumpulkan uang.

3.Buat “Smart Shopper”
Dengan bantuan teknologi, berbagai aplikasi untuk mengatur keuangan telah banyak tersedia. Salah satunya adalah ragam aplikasi smart shopping. Jenis aplikasi ini mampu membantu pengguna dalam memaksimalkan kantong belanjaan sesuai kebutuhan.
4.Mulailah Berinvestasi
Kunci dari kebebasan finansial adalah memiliki pendapatan pasif, yang salah satunya dapat dicapai melalui investasi.

Bila tidak tahu harus memulai investasi karena terbatasnya pengetahuan, maka mulailah dengan menjadi investor konservatif dengan toleransi risiko rendah. Ini akan memberi alternatif cara untuk membuat uang berkembang, sementara itu kita dapat belajar lebih banyak tentang investasi.

“Mintalah penasihat investasi yang ada di bank Anda untuk memberikan saran dalam proses pembelajaran ini. Walaupun dalam jumlah yang kecil, namun kita telah belajar untuk mengembangkan dana yang kita miliki agar lebih produktif,” tutup Iwan.sumber http://www.koran-jakarta.com/budaya-konsumtif-yang-mengancam-generasi-milenial/

About the Author

Kost Hotel Cendekia

Perusahaan Kontruksi yang terdiri dari para expertise yang tergabung dalam PT. PILAR KREASI MANDIRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Whatapps
Office